Menangisi Ayah Yang Masih Bernapas Di Luar Pintu ICU : Antara Doa Yang Dipanjatkan dan Keikhlasan Yang Membunuh
Karya: SUSAN KINANTIAyah…
Siang itu kita berjalan berdampingan meninggalkan rumah sakit
Dibalut hangat dan sebaris senyum yang terbit di bibirmu
Namun engkau memilih tak langsung pulang ke rumah kita
Melainkan kembali ke rumah masa kecilmu tempat cinta kasih pertama bermula
Sempat aku bertanya dalam diam bukankah rumah kita adalah tempat kita pulang?
Hingga kaki kita menginjak ambang pintunya
barulah aku paham Ayah…
Tante, Nenek, dan keluarga besar berdiri menanti
menyambut langkahmu dengan haru yang tak tertahan
Wajahmu sulit ku baca Ayah namun harapan itu terucap lugas engkau tak ingin lagi kembali ke rumah sakit
Seketika ruang itu dipenuhi kesibukan penuh kasih
Menyiapkan segala keperluan untukmu, aku, adik, ibu,juga untuk kedua orang tuamu yang setia mendampingi
Meski raga belum sepenuhnya pulih binar bahagia tak mampu kau sembunyikan
Engkau tertawa berbincang hangat tanpa jeda
saat kerabat datang silih berganti memeluk hari
Namun seolah waktu tiba-tiba berhenti…
Tawa itu mendadak padam Kesadaranmu melayang
napas mu tertahan
Nyatanya lagi dan lagi engkau terbaring di sana
Tubuhmu terkepung deru mesin yang membuatku gila
Rasanya raga ini hancur berkeping-keping
Melihatmu menahan sakit yang teramat genting
Suaramu parau memanggil "Mama... Papa...
Tolong saya... tolong... saya tak tahan lagi rasanya..."
Tangan Nenek kau genggam begitu erat
Menahan erangan jerit yang teramat berat
Namun saat kesadaranmu kembali merayap
Kau berbisik lembut, "Tidak sakit, hanya sesak saat bernapas..."
Kesadaranmu pelan meredup deru napas mu makin menghilang Ayah...
Detak alat medis kian melambat meremukkan asa yang tersisa
Ragaku memberontak pada semesta memohon satu kesempatan lagi untukmu
Dokter berbisik pasrah "Berdoalah untuk sebuah keajaiban..."
Aku tak sanggup menatapmu Di depan pintu ini aku bersimpuh
Air mata tumpah dalam diam merayu langit agar kau bertahan
Aku belum siap kehilangan Aku tak ikhlas kau pergi Ayah... sungguh jiwaku belum rela
Parigi, 7 September 2026