Rumah di Ujung Ragu
Karya: Inneke Dwi AryantiRibuan wajah beriring,
namun sunyi masih mengiring.
Banyak tangan ingin menggenggam,
namun tak ada yang kuharapkan.
Kukejar hangat seperti mentari,
namun teduh membuatku berlari.
Kupinta hati untuk berlabuh,
namun ombak membawaku menjauh.
Dikelilingi ramai, namun tak tersentuh,
bagaikan gadis yang kehilangan arah.
Sungguh hati ini tak sempat berteduh,
rasa ini enggan menemukan rumah.
Kemanakah hatiku akan menetap?
Isak tangis, ego, dan amarah
perlahan membutakan rasa,
hingga jalan pulang tak lagi terlihat.
Entah siapa yang sudi
merengkuh gadis penuh nestapa,
yang tersesat dalam egonya,
tak tahu ke mana hendak bermuara.
Ia hanya mendamba teduh,
tempat memeluk dan menetap tanpa jeda.
Namun saat rumah itu terbuka,
ia justru memilih berpaling.
Bukan karena rumah itu tak layak,
melainkan karena ia terlalu takut
untuk benar-benar tinggal.
Lamongan, 7 September 2026