Menyimpan Tangis di Garis Tangan
Karya: Safiratun MainiDi petak kamar yang menyudutkan malam,
aku mengeja sunyi yang ditinggalkan kota.
Di atas meja, tumpukan tugas terus menagih
janji luhur yang kubawa dari kampung halaman.
Ada saat-saat perut meringkuk menggigit sepi,
dan usap lembut Ibu tinggal bayang di pelupuk.
Namun, peluh Ayah yang membanting tulang di ladang
selalu menyapu air mata ini agar tak gugur sia-sia.
Tangis perantau bukanlah tanda menyerah.
Ia adalah air wudu bagi doa yang samar,
ditiupkan perlahan dalam sujud yang panjang,
menembus langit demi kabar bahagia di masa depan.
Di tanah asing ini, aku bertaruh dengan waktu,
merawat asa demi membalas lelah mereka di ujung jalan.
Surabaya, 4 September 2026