Tertawa Dulu, Urusan Besok Belakangan”
Karya: RAFFI ZULWASNYACH PURBAAku tertawa,
bukan karena hidup selalu baik,
tetapi karena kalau terus menangis,
mata bisa bengkak,
sementara masalah tetap saja naik.
Kita pernah tertawa karena hal sederhana,
jatuh tersandung lalu pura-pura biasa,
padahal lutut sakit luar biasa,
namun gengsi berkata,
“Tenang, aku tidak apa-apa.”
Hidup memang kadang lucu,
kita mengejar uang sampai lupa waktu,
ketika uang sudah datang bertamu,
malah pergi lagi tanpa permisi dulu.
Ada hari ketika kita merasa paling hebat,
besoknya bingung mencari kaus kaki yang tersesat.
Kita ingin mengubah dunia,
tetapi bangun dari kasur saja
harus berdebat dengan rasa malas yang luar biasa.
Namun mungkin itulah makna hidup,
tidak semuanya harus dibuat serius.
Sebab di balik lelah yang panjang,
selalu ada alasan untuk tersenyum,
meski hanya karena melihat teman jatuh
lalu kita tertawa sebelum menolongnya—
tentu setelah memastikan dia tidak patah tulang.
Jadi, mari tertawa selagi bisa,
nikmati hidup tanpa terlalu banyak curiga.
Sebab waktu tidak pernah berjalan mundur,
dan kesedihan pun tidak selamanya tinggal.
Jika hari ini belum sesuai harapan,
tak apa, jangan terlalu dipikirkan.
Tarik napas, tersenyumlah perlahan,
karena hidup terlalu singkat
untuk dihabiskan dengan wajah penuh tekanan.
Tertawalah,
bukan berarti kita tak punya luka.
Tertawa adalah cara sederhana
mengatakan kepada dunia:
“Aku memang sedang tidak baik-baik saja,
tetapi aku masih punya alasan
untuk bahagia.”
Sumatera Utara,3 September 2026