tawa yang menyewa ruang
Karya: Oknum citra Sukarto hulu"Tawa yang Menyewa Ruang"
Tawa itu bukan suara,
dia penyewa.
Datang tanpa mengetuk,
duduk di dada yang sempit,
lalu merenovasi jadi aula.
Ada tawa yang kecil,
seperti koin jatuh di lantai marmer.
Bunyi "ting" —
semua kepala menoleh,
tapi dompet tetap kosong.
Ada tawa yang besar,
seperti hujan di atap seng Sibolga.
Deras, berisik, membasahi,
bikin orang lupa kalau atapnya bocor.
Tawa orang dewasa rasanya beda.
Setengah napas ditahan,
setengah lagi dipinjamkan ke luka.
Dia tertawa supaya sedihnya
tidak kebagian tempat duduk.
Tawa anak-anak paling jujur.
Belum tahu harga,
belum tahu pajak,
jadi dia tertawa gratis.
Dan gratis itu sekarang barang langka.
Aku pernah meminjam tawamu sekali.
Kubawa pulang, kusimpan di toples.
Setiap malam kubuka,
dan ruangan gelapku jadi terang
tanpa harus bayar listrik.
Katanya tawa itu obat.
Padahal tawa itu rumah.
Tempat kita pulang
saat dunia menagih terlalu banyak.
Jadi kalau nanti aku diam,
pinjamkan tawamu sebentar ya.
Aku janji mengembalikannya
dengan bunga:
satu tawa lagi, yang lebih nyaring.
Sumatra Utara,kota Sibolga 5 September 2026