Banjir di Hadirat-Mu atas Kehadiranku
Karya: Ibrahim Ridho SetiawanSaya menangis cukup deras
hingga kulihat bayanganku di sana.
Seketika bercahaya nan jelas,
tak bisa kusangkal
bahwa berulang kali
aku mati dan hidup di sana.
Tuhan, bisakah Kau di sini?
Jangan biarkan si pendosa ini merasa memiliki tubuhnya sendiri.
Mari berlabuh pada cahaya,
karena di mana pun kita melandas,
adalah tempat di mana kita bersyukur.
Tuhan, bisakah Kau di sini?
Jangan biarkan air mata ini mencoba menjelaskan lebih jauh.
Lewati belantara penuh muslihat dan madu lebah yang keruh.
Tanpa izin, ia basahi katun yang kusuka,
kertas yang berkalimat duka.
Tanpa menyisakan apa-apa,
kecuali rasa sesal
atas terlambat menyadari
yang selama ini diriku pinta.
Pekalongan, 23 November 2025