Tangus Di Tanah Sendiri
Karya: NurhasanahDi bawah langit yang semakin kelabu,
seorang rakyat menundukkan kepala,
menyembunyikan tangis di antara riuh kota,
sementara harapan perlahan kehilangan suara.
Ia menangis bukan karena lemah,
melainkan karena terlalu lama bertahan.
Di meja sederhana, nasi kian berkurang,
sedangkan janji tumbuh subur di bibir penguasa.
Di jalan-jalan, ia melihat ketidakadilan,
menyaksikan mereka yang kecil semakin terpinggirkan.
Tangisnya jatuh seperti hujan,
membasahi tanah yang katanya milik bersama.
Wahai negeri, dengarkanlah suara rakyatmu.
Jangan biarkan air mata menjadi bahasa terakhir.
Sebab di balik setiap tangis yang sunyi,
ada hati yang masih berharap pada keadilan,
pada kehidupan yang layak,
dan pada masa depan yang tidak lagi menindas.
Bekasi, 1 September 2026