Pantulan
Karya: Nina NurjanahAku bertanya pada pantulan kaca,
“Sudahkah kau sembuh sepenuhnya?”
Ia menyeringai,
namun matanya menyimpan hujan
yang tak pernah sempat jatuh.
Bagaimana mungkin bisa sembuh,
sedangkan lukanya kupeluk sambil tumbuh?
Aku tertawa—
bukan karena bahagia,
melainkan karena terlalu lama
menyimpan marah di dalam dada.
Ada rasa jijik, ada rasa hina,
dan pertanyaan yang terus menghantui:
mengapa aku harus menanggung
kesalahan atas sesuatu yang bukan milikku?
Namun perlahan aku mengerti,
luka bukanlah seluruh diriku.
Sembuh bukan berarti lupa,
melainkan belajar memeluk diri
tanpa menyalahkan apa yang telah terjadi.
Aku mengusap air mata.
Pantulan itu tetap di sana,
dan untuk pertama kalinya
aku tak takut menatapnya.
Sebab yang kulihat bukan seseorang yang harus disalahkan,
melainkan seseorang yang masih memilih melangkah.
Kapuas, 1 September 2026