TERTAWA TAPI TERLUKA
Karya: NESA MEDINA SYAKIBKami dulu jago sekali tertawa.
Paling keras sekelas.
Padahal hari itu melelahkan.
Dari upacara sampai jam pulang,
pikiran penuh, badan capek,
tapi begitu duduk bareng...
rasanya semua jadi ringan.
Aneh ya.
Di sekolah kami bisa tertawa lebih lepas
daripada di kamar sendiri.
Di rumah sepi, di sini ada kalian.
Ingat gak?
Waktu ulangan, tangan gemetar, keringat dingin.
Soalnya keluar semua.
Kita saling lirik, saling bisik,
"Gimana ini"
Lalu malah ketawa panik.
Karena kalau tidak ketawa,
kami takut nangis duluan.
Atau ulangan mendadak itu.
Guru masuk, buku ditutup.
Lima menit baca, langsung kerjain.
Nilai berantakan.
Tapi istirahat kami ketawa lagi.
Padahal di balik tawa
ada malam begadang,
ada takut mengecewakan rumah,
ada capek yang kami sembunyikan
dengan "gapapa".
Sekarang sudah beda.
Masih ketawa, tapi suaranya pelan.
Tidak apa-apa.
Karena dulu kita punya obat paling murah:
ketawa bareng.
Terima kasih.
Untuk semua tawa kita dulu.
Yang menolong,
walau saat itu
kami sedang ketawa... tapi terluka.
Dharmasraya,14 September 2026