Bahasa yang jatuh
Karya: Muhammad Firaldi Akbar BimantaraMalam melipat sunyi
di balik jendela yang tertutup.
Di sana,
kata-kata gugur sebelum suara,
meninggalkan jeda
yang tak sanggup diterjemahkan.
Lalu satu tetes jatuh.
Disusul yang lain,
perlahan,
seperti kalimat
yang kehilangan titik.
Pipi menjadi halaman.
Air mata menjadi aksara.
Tak ada nama yang ditulis,
namun seluruh kehilangan
terbaca di sana.
Pagi membuka jendela,
membiarkan dunia kembali
berpura-pura biasa.
Di sudut mata,
sebuah aksara masih basah.
Barangkali begitulah tangis:
bukan suara yang pecah,
melainkan bahasa
yang akhirnya menemukan jalan
ketika kata-kata
tak lagi mampu pulang.
Banjarbaru, 14 September 2026