Tangis di Ujung Malam
Karya: Muh. Syahrul ArifMalam merambat perlahan membawa sunyi yang pekat,
ketika bayang-bayang masa lalu kembali mendekat.
Di sudut kamar yang dingin dan bisu,
luruhlah setetes air mata penuh rasa haru.
Bukan karena benci atau amarah yang membara,
melainkan rindu yang tidak lagi memiliki suara.
Tangis ini menjadi saksi atas setiap luka,
yang tersembunyi rapi di balik senyum dan tawa.
Dada terasa sesak menahan beban yang berat,
seakan waktu enggan berlalu dengan cepat.
Namun, di setiap tetes yang jatuh ke bumi,
ada doa tenang yang perlahan memulihkan hati.
Biarlah air mata ini mengalir menyapa malam,
membawa pergi duka yang selama ini terendam.
Sebab setelah tangis reda dalam keheningan,
akan ada kehangatan baru yang membawa harapan.
Wajo, 14 September 2026