Deru tangis berisik, di tengah hujan merintik
Karya: Lyvia Bellanina Rinara PutriDemi masa, aku bersumpah, bersujud untuk bersuara.
Melindungi hati dari raga yang hancur tersiksa.
Terlilit akar, susah untuk berbicara.
Menelungkup diam, luka yang tidak mereda.
Tatapanku kosong. Sayang, untukmu kurela tidak berwarna.
Tuhan, aku lelah, sangat lelah untuk berbicara, air mata ini bahasa jujur untuk bersuara.
Di benakmu, aku adalah seorang manusia hinaYang kauanggap sebagai penghambat jiwa di kehidupanmu yang suram, layaknya hewan melata.
Aku bertatih-tatih, sakit perih, agar kau aman terhindar berisik
Kukorbankan terang nirwana, agar kau tetap berbunga.
Kukobarkan rasa sabar seluas samudra, agar kau tetap bisa bermuara.
Yang bisa kulakukan hanyalah menangis riuh, di tengah hujan mengalunkan rintik
Sayang, pernahkah kau mendengar isak tangis berisik di hidupmu?
Pernahkah dadamu sesak seperti ditimbun batu?Hanya karena penyesalan yang terjadi akibat kejinya dirimu.
Kau anggap aku adalah dus biru tanpa ada buku.
Yang bisa kauinjak-injak semaumu.
Bandung, 2 September 2026