Melipat Sayap di Atas Duri.
Karya: Lidia IndrianiDi matanya, sayap-sayap terikat amat ketat,
menatap puncak yang runtuh sebelum sempat mendaki.
Ia melipat sayap yang pernah memburu langit,
menukarnya dengan kepingan penawar lapar hari.
Di bawah langit yang tak pernah memberinya ruang,
cita-cita lebur menjadi debu di ujung jemari.
Ada tarian bintang yang terpaksa ia tinggalkan,
sebab di rumah, beras lebih dulu menunggu daripada mimpi.
Ia tak lagi sempat mengeja ke mana arah terbang,
hanya terus belajar merayap di atas duri kehidupan.
Taman impiannya mengering tanpa sempat berbunga,
tergilas deru masa depan yang tak pernah memberi ampunan.
Sebab baginya, menengadah adalah kemewahan yang harus ia kubur,
sementara esok pagi, raganya harus tetap bernapas dalam himpitan.
Bengkulu, 29 Agustus 2026