Autoanamnesis: Kesaksian dari Ruang Seklusi
Karya: Ishmah Dinina AulawiyahPutih dinding menelan pandangan.
Dingin lantai merambat sampai tulang.
Ventilasi hanya mengembuskan bau obat.
Lalu,
“hih… hihihi…”
Satu cekikikan kecil jatuh ke lantai.
Lampu tetap berdengung.
Pintu tetap terkunci.
Udara tak mengenal sumber suara.
Malam berganti.
“heh… hehehe…”
Kekehan berdiam di sela dengung lampu,
bergetar pada nat dinding,
mengendap di lantai.
Empat dinding tetap putih.
Satu pintu tetap jeruji besi.
Tak ada kursi juga jendela.
Begitu pula raga lainnya.
Namun kekeh tumbuh,
bukan semakin keras,
melainkan semakin dekat.
“hih… hihihi…”
Bibir mengembang.
Gigi beradu.
Tenggorokan mengeluarkan bunyi serupa,
“hih… hihihi…”
Garis kuku menggores cat putih.
Serbuk kapur jatuh ke lidah,
pahit, sementara lampu berdesis.
Kemudian padam.
Gelap menelan dinding.
Bau obat menipis.
Dingin lantai menghilang.
Kekeh berhenti.
Sunyi.
Lalu,
“hih… hihihi…”
Kekeh kembali jauh dalam dinding,
Bibir turut tertawa, gemetar.
Surabaya, 12 September 2026