Luka dan Air Mata yang Memilih Diam
Karya: Isabela Mutiara MbangaTangis jatuh tanpa suara,
menyusuri pipi yang lelah,
membawa cerita yang tak sempat terucap,
tentang hati yang belajar mengikhlaskan kehilangan.
Ada luka yang memilih diam,
bukan karena telah sembuh,
melainkan kata- kata yang tak lagi cukup
untuk menjelaskan betapa dalamnya perih.
Malam menjadi saksi
ketika air mata berbicara kepada sunyi.
Di antara sesak dan doa yang lirih,
aku mencoba berdiri meski hati hampir runtuh.
Namun tangis bukan selalu bertanda kelemahan.
Ia adalah bahasa ketika hati terlalu penuh,
sebuah cara untuk melepaskan kesedihan
agar esok masih ada ruang bagi harapan.
Biarlah air mata mengalir malam ini,
Sebab semua tangis tak harus disembunyikan.
Dari mata yang basah lahir keberanian untuk kembali tersenyum.
Ende, 10 September 2026