Rumahku Obrak-Abrik
Karya: IrmawatiPurnama ini, kutandai angka dan hari di kalenderku.
Bukan sebagai hari bahagia, bukan pula sebagai hari di mana aku terlahir bebas di atas tanahku.
Melainkan hari di mana aku melihat rumahku luluh lantak oleh guncangan dahsyat yang menggetarkan sekujur tubuh.
Usai malam menelan siang, belum samar luka yang kuterima, datanglah angin membawa asap dari paru-paru rumahku yang dilahap jago merah.
Tak hanya kesulitan bernapas,
pun luka kian menganga,
air mata tak terbendung, bak banjir yang menelan hidupku dengan gelondongan kayu.
Aduh, betapa sakitnya.
Di ketukan jam yang sama,
Ronaku menangkap sang nahkoda melambung di udara, padahal saat itu bumiku sedang retak.
Pun para punggawa, senantiasa memuja yang di ketinggian,
sedangkan di bawah sana, rimbaku menjelma tungku api.
Teramat pedih mataku menyaksikan semua ini, sampai-sampai air mengucur dari sana.
Nusa Tenggara Barat, 30 Agustus 2026