Ika Hildayana - Tangis Di ujung Perpisahan (OSN 3.8)

📅 12 September

 Tangis Di ujung Perpisahan

Karya: Ika Hildayana


Luka yang datang tanpa aba-aba,
bagai petir menyambar siang
ketika langit masih menyimpan cahaya.

Kabar itu jatuh ke telingaku
seperti sebilah sunyi
yang mengiris dada perlahan.
Dunia seakan kehilangan suaranya,
waktu berhenti pada satu detik,
dan air mata menjadi bahasa
yang tak sanggup diterjemahkan kata-kata.

Konon,
tak ada pertemuan tanpa perpisahan,
tak ada hidup yang luput dari ajal.
Namun, siapa sangka,
perpisahan datang terlalu lekas,
bagai daun yang gugur
sebelum sempat menguning.

Aku bahkan belum sempat menemuimu.
Belum sempat menatap matamu
untuk yang terakhir kalinya.
Belum sempat menggenggam tanganmu,
belum sempat memelukmu
dan berkata,
“Jangan pergi dahulu.”

Namun, takdir adalah tangan yang tak terlihat;
ia menulis kisahnya sendiri
di atas lembar kehidupan manusia.
Kita hanya mampu membaca
setelah semuanya menjadi kenangan.

Kecelakaan itu
merenggut langkahmu
sebelum langkahku sampai kepadamu.
Jarak yang dahulu hanya sebentang perjalanan
kini menjelma jurang tak bertepi.
Aku masih dapat menyebut namamu,
tetapi tak lagi dapat mendengar
suaramu menjawab panggilanku.

Sungguh,
air mata ini bukan sekadar tangis.
Ia adalah rindu
yang kehilangan alamat pulang.
Ia adalah kata “sayang”
yang terlambat menemukan telinga.
Ia adalah “selamat tinggal”
yang tak pernah sempat terucapkan.

Andai takdir memberi kesempatan kedua,
aku tidak meminta waktu yang panjang.
Cukuplah satu pertemuan,
satu pelukan,
satu tatapan,
satu kalimat terakhir:

“Terima kasih sudah menjadi kakakku.”

Tetapi penyesalan selalu datang terlambat,
seperti tamu yang mengetuk pintu
ketika rumah telah lama kosong.

Kini, biarlah doa menjadi perahu
yang mengantarkan rinduku
menyeberangi batas antara dunia dan keabadian.

Beristirahatlah dengan tenang, Kak.
Namamu mungkin telah ditulis
di halaman terakhir perjalanan dunia,
tetapi dalam kitab kenanganku,
kisahmu tidak akan pernah tamat.


Belitung, 11 September 2026