Seroja di Telaga Lara
Karya: Febby Zefanya FauDi ambang temaran senja,
seuntai tawa menguar dari tutur
yang pernah akrab dengan nestapa.
Ia bukan sekadar gelak,
melainkan seroja yang mekar
di atas telaga luka.
Dibaliknya,
ada senandika yang tak tersuarakan,
tentang kehilangan,
tentang doa yang pernah gugur
sebelum menyentuh langit.
Namun ia tetap tertawa,
bagai fajar yang tak pernah meminta
malam untuk lekas tiada.
Sebab barangkali,
tawa adalah cara paling sunyi
bagi sukma untuk berkata
Aku pernah patah,
pernah karam dalam lara,
Namun aku belum selesai mencintai dunia.
Maka biarlah tawa itu mengembara,
menjadi harum di antara luka,
menjadi cahaya kecil bagi jiwa yang nyaris menyerah.
Sebab selama tawa masih bersemi,
hidup belum benar-benar kalah.
Tangerang, 01 September 2026