Tangis yang Kehilangan Rumah
Karya: Eja LestariBak kendaraan yang berlalu-lalang,
hadir namun tak pernah setia pada satu tempat.
Mereka datang hanya untuk singgah,
namun tidak untuk menetap.
Manusia datang lantas pergi,
membawa cerita lalu meninggalkan luka.
Dalam kisah mereka, aku hanyalah tokoh pelengkap,
hadir dalam setiap adegan, namun tak pernah menjadi inti cerita.
Tak ada yang benar-benar menjadi rumah.
Hidupku bak kopi tanpa gula,
dan aku masih meneguk pekatnya dunia yang penuh kepalsuan.
Hanya semesta yang tahu isi hatiku.
Dari lautan yang luas sampai gunung yang hijau kususuri.
Namun mereka hanya bisa mengobati,
tanpa pernah mengajariku untuk melupakan.
Apakah aku sudah gila?
Bak berbicara dengan orang bisu
yang hanya bisa mendengar,
tanpa pernah menjawab.
Walaupun alam tak mungkin menjadi seperti manusia,
nyatanya, semestalah rumahku sekarang,
tempat yang sedikit mengurangi bebanku,
rumah yang selama ini tidak pernah kudapatkan.
Majalengka, 12 September 2026