Rintik di Penghujung Sandyakala
Karya: Dwi WinandaTahu apa yang paling indah?
Kala semburat senja merengkuh jingga merekah
Untaian nama tersurat di titik-titik nabastala
Terbayang senyumnya menyemai kidung bersama
Terombang-ambing di atas lakara
Menjajaki sagara nyaris mengecup senja
Saat penghujung sandyakala rintik menohok kita
Punggung tangan itu tutup muka masam
Tanpa risau akan pedihnya
Ini ketenangan, katamu
Sekarang, aksara amorfati berkali-kali kubaca
Segan jikalau menyisi saat rinai meluruhkan atma
Tak ada lebih keji berdalih atas ikhlas
Hanya bualan menikam sukma yang waras
Ikatan sejati berubah kelam
Kekasih hati pelipur lara meregang nyawa
Dahulu segala nodaku dirinya balas cinta
Tangis rindu mulai terasa menyiksa
Menelanjangi akal tanpa kenal cara bahagia
Tertinggal puing-puing doa harap amerta dalam nirwana
Dolok Masihul, 31 Agustus 2026