Tawa yang Merawat Luka
Karya: Devita Putri AnggraeniTawa itu pecah di sudut ruang tunggu,
menyelinap dari bibir yang lelah menanti.
Bukan tawa yang dibuat-buat,
tapi tawa yang lahir dari hati yang terbuka.
Aku ingat tawa ibu ketika aku jatuh dari sepeda,
tawa yang menghapus perih tanpa sepatah kata.
Tawa adalah bahasa yang tak perlu diterjemahkan,
ia menembus sekat, menembus jarak yang membentang.
Di tengah hari yang penat dan beban yang menumpuk,
tawa datang seperti hujan yang membasuh debu jalan.
Ia bukan pelarian dari kenyataan,
melainkan keberanian untuk tetap berdiri walau dunia terasa berat.
Maka biarkan tawa itu tumbuh,
di setiap sudut yang pernah sunyi dan sepi.
Sebab tawa yang tulus dan jujur,
adalah cara kita merawat diri sendiri dan sesama.
Purworejo, 15 September 2026