Tawamu, Gema yang Hampa
Karya: Damia Nariswari WardhanaLagi-lagi kau tertawa
dengan suara yang dulunya amat kubenci
karena kukira tawamu penuh dengan dengki.
Aneh, bukan?
Dulu kita tak kenal
dan sekarang kita bisa saling tukar canda dan ejekan.
Kau bahkan bilang aku perlu waktu lebih untuk memproses sesuatu.
Lucu.
Ilmu pengetahuan bilang:
suara membutuhkan waktu untuk sampai ke telinga kita.
Apakah waktu itu sama seperti yang aku butuhkan?
Jadi, kutanyakan:
apakah suaramu masih akan ada di antara kebisingan?
Apakah tawa yang amat kusuka masih bisa terulang?
Ataukah…
Ah, sudahlah.
Mungkin aku sudah lama sadar,
tawamu juga akan menjadi gema dalam kenanganku.
Begitu pula untukmu tentang aku, bukan?
Aku tak bisa mengerti.
Tapi sekarang, aku tahu ini
Aku akan tetap tertawa.
Klaten, 15 September 2026