Karnaval Di Ruas Tulang
Karya: Arya SaputraPerutmu berguling-guling seperti anak sapi
yang baru menemukan rumput pertama.
Udara masuk deras, keluar lebih deras—
membentuk gelembung-gelembung kaca
yang pecah jadi serbuk pelangi.
Bahumu saling kejar, tidak ada yang menang.
Leher memanjang seperti tali jemuran
yang diangin-anginkan lagu dangdut.
Gigi-gigi beradu membikin bunyi kerincingan,
seperti ibu-ibu menumbuk cabai di lesung.
Kaki menghentak-hentak tanpa map,
mengubah lantai jadi trampolin raksasa.
Mata menyipit sampai keluar garis-garis cahaya
yang menjalar ke pipi, ke dahi, ke ubun-ubun.
Dan suara itu—menggumpal, membuncah, meluber—
seperti sirup maple yang dituang ke panekuk
terlalu banyak, tapi tidak apa.
Ia mengundang semua sendok untuk ikut.
Tangan terbuka lebar, menangkap sesuatu
yang tak kasat mata: hangatnya selimut
yang baru dijemur, sebelum tidur.
Kepala menengadah, mulut menganga lebar.
Dari sana keluar warna-warna yang tak punya nama—
hanya tahu cara membuat hari
terasa lebih ringan dari bulu ayam.
Yogyakarta, 31 Agustus 2026