Tangis yang bicara
Karya: Alfiyyah. N. FAir mata luruh bukan lantaran tak tabah
Bukan pula jiwa telah retak dan rapuh
Ia sekadar rindu yang tak kunjung terucap
Dari beban sunyi yang memeluk rapat
Setiap tetes mengusung sepotong rasa
Yang terpendam lama di relung jiwa
Terkunci rapat di balik senyum pura-pura
Di saat hati berbisik tak ada yang dengar
Biarlah mengalir, biarlah bercerita
Agar hati ringan, kembali bercahaya
Bukan berarti dunia telah berakhir
Hanya saja jiwa butuh sejenak beristirahat
Tangis bukan tanda aku telah kalah
Ia pelukan lembut bagi diri yang lelah
Membasuh debu yang menumpang di dada
Menyapu luka yang tak pernah terucap
Jangan malu jika mata berkaca
Itu bukan tanda kelemahan jiwa
Itu tanda kau masih hidup dan rasa
Dan hatimu masih mampu merasakan
Setelah basah kering, kan tegak kembali
Menjemput asa yang masih menyala di hati
Karena setelah hujan pasti ada cerah
Dan tangis ini kan jadi jalan pulang yang indah
Sumedang, 2 September 2026