Jatuh yang Paling Sunyi
Karya: Alfianto NugrahaSuatu hari aku telah berbohong,
melemparkan senyuman kepada semua orang,
menutupi kesedihan dengan tawa yang lepas.
Tapi pintu kamarku punya cara sendiri untuk menyampaikan.
Kunci pintu berputar dan lampu mati.
Kepura-puraan itu berubah menjadi kehabisan amunisi.
Dadaku sesak seperti kehilangan oksigen.
Tidak ada suara yang keluar,
tidak ada kaca yang terpecah menjadi hancur,
hanya cairan hangat yang akhirnya tumpah,
mengalir dengan perlahan-lahan,
asin rasanya dan membasahi bantal
yang tak mengerti apa-apa.
Runtuh ternyata tidak selalu berisik.
Menangis bukan pertanda aku menyerah,
melainkan cara aku mengakui
di hadapan sang bintang,
aku hanya manusia yang lemah,
yang lelah berpura-pura kuat.
Yogyakarta,14 September 2026