Sungai Kecil di Wajah Senja
Karya: Aisyah Dea RamandokoSenja menggantungkan jingga
di bahu langit yang mulai tua.
Cahayanya perlahan tenggelam,
seperti harapan yang kehilangan arah.
Di wajahku,
mengalir sungai kecil tanpa nama.
Ia lahir dari pelupuk mata,
menyusuri pipi dengan sunyi,
membawa kata-kata
yang tak pernah sempat menjadi suara.
Angin mengusap sore,
namun tak mampu menyentuh
riuh yang bersembunyi di dada.
Ada luka yang memilih diam,
sebab beberapa kesedihan
memang tak pandai diterjemahkan.
Mungkin air mata
adalah bahasa paling jujur
yang dimiliki hati.
Ia tak meminta dimengerti,
hanya ingin mengalir
sebelum sesak berubah menjadi badai.
Maka biarlah sungai itu mengalir,
hingga senja benar-benar padam.
Sebab aku percaya,
setelah langit selesai menumpahkan hujan,
akan selalu ada pagi
yang datang membawa cahaya.
Dan mungkin,
aku pun akan begitu
menangis hari ini,
lalu tumbuh lebih kuat
ketika esok menyapa.
Karawang, 14 September 2026