Dibaca: Memuat...
Peluk Yang Tak RetakKarya: Yuliana Mesa
Saat fajar menyibak tirai dengan lirih,
teriakan Ibu merobek sunyi yang pilu.
Bukan membangunkan dari tidur,
tetapi membangunkan kami dari dunia yang runtuh.
Kukira wangi kopi sudah menari di cerah,
ternyata periuk kosong, tak ada setetes berkah.
Doa semalam hanyut bersama atap rumah,
bersama dinding yang dipaku Ayah penuh cinta.
Dari balik puing terdengar suara Ayah,
satu kaki tertahan di antara serpihan duka.
Namun tangannya terus meraba dalam debu,
mencari kami dengan kasih yang tak pernah lelah.
Di dada Ibu, bayi mungil terlelap sudah,
belum sempat mengecap susu, belum sempat mengucap doa.
Ia pulang lebih dulu dipeluk kasih yang pertama,
sebelum sempat mengerti arti dunia.
Duka datang tanpa permisi, tanpa sapa,
air mata jatuh membasahi puing dan luka.
Tetapi genggaman Ibu lebih kuat daripada badai,
ia berlari sambil memeluk, menangis sambil menjaga.
Kami kehilangan nasi, kehilangan teduh,
tetapi tak pernah kehilangan Ibu yang setia.
Ia kehilangan segalanya, namun tetap menjadi rumah,
menjadi langit, menjadi doa.
Oh, Flores, di tanahmu yang bergetar ini kami mengerti sudah,
bahwa cinta seorang ibu
adalah atap paling teduh,
yang tak akan pernah diruntuhkan gempa.
Ngada, 26 Agustus 2026