Karya: Wafiq Herliani
Dulu kukira luka
adalah rahasia yang harus dikubur.
Dibiarkan busuk dalam diam
sampai ia kering dengan sendirinya.
Aku salah.
Luka ini sembuh
ketika kubuka dan kuceritakan.
Panjang. Berantakan. Jujur.
Kepada orang yang mau menunggu
sampai kalimat terakhirku selesai.
Kepada malam yang tidak pernah menyela.
Kepada kertas yang meminum semua tumpahku
tanpa bertanya.
Lalu di tengah isak itu
pecahlah tawa.
Bukan menertawakan luka.
Tapi menertawakan diriku yang dulu
pikir ia tidak akan sanggup
duduk di sini hari ini.
Bercerita.
Tertawa.
Ternyata benar,
tawa obatnya.
Cerita jalannya.
Aku buktinya.
Tanjung, 26 Agustus 2026