Karya: Suyatmi
Aku selalu tertawa
ketika mereka bertanya,
“Bagaimana kabarmu di sana?”
Aku menjawab ringan,
“Baik-baik saja.”
Lalu kuselipkan tawa
di antara suara mereka,
agar tak ada yang tahu
bahwa hari ini
aku kembali belajar
menyembunyikan lelah.
Di depan orang lain,
aku adalah perantau
yang terlihat baik-baik saja.
Aku bekerja,
aku makan,
aku berjalan,
bahkan sesekali tertawa
seolah hidup tak pernah
meninggalkan apa-apa.
Padahal ada malam-malam
ketika suara rumah
hanya tinggal kenangan.
Ada rindu
yang terlalu panjang untuk diceritakan,
ada tangis
yang terlalu mahal untuk dibagi.
Maka setiap kali menelepon,
aku kembali menjadi diriku
yang mereka kenal.
Tertawa.
Bercerita tentang hal-hal kecil.
Mengatakan semuanya baik.
Sebab aku tahu,
jika suaraku berubah sedikit saja,
mungkin ibu akan bertanya,
“Kenapa?”
Dan aku tidak tahu
bagaimana menjawabnya
tanpa membuat mereka ikut terluka.
Jadi biarlah mereka percaya
bahwa anaknya baik-baik saja.
Biarlah tawaku
menjadi kabar paling baik
yang bisa kukirimkan
dari tanah rantau.
Hanya saja…
ada satu hal
yang tak pernah sampai ke rumah:
tawa yang sebenarnya.
Sebab sebagian tawaku
hanya lahir
untuk menyembunyikan
betapa aku ingin pulang.
Hongkong 24 Agustus 2026