Karya: SULFIANA
Aku hanya melihatmu sebagai orang biasa,
awalnya.
Namun entah bagaimana,
ada sesuatu yang selalu gagal kupahami dari caramu tertawa.
Pernah kulihat senja,
jatuh perlahan di balik cakrawala.
Pernah kudengar hujan mengetuk jendela,
menyapa di malam-malam yang nyala.
Tetapi tak pernah kutemukan keindahan yang sama,
seperti ketika kau tertawa.
Mungkin karena tawamu tak hanya terdengar oleh telinga,
ia sampai ke tempat-tempat dalam diriku yang sudah lama tak tersentuh bahagia.
Siapakah engkau, wahai gerangan?
Mengapa begitu mengudara tawamu di dalam angan?
Dari sekian banyak suara dalam semesta milik Tuhan,
mengapa tawamu yang paling lama tinggal dalam ingatan?
Makassar, 23 Agustus 2026