Karya: Sitti Shafira Rizkya
Di antara riuh dunia,
aku belajar mengenal tawa,
bukan sekadar lengkung di bibir,
melainkan cahaya kecil
yang tumbuh dari luka yang pernah singgah.
Tawa adalah suara
yang mengajarkan hati untuk pulang,
meski langkah pernah tersesat
di lorong sunyi yang panjang.
Ia hadir seperti matahari
di sela mendung,
menghangatkan jiwa
yang nyaris lupa cara bahagia.
Barangkali hidup tak selalu ramah,
namun selalu ada alasan
untuk menghadiahkan senyum kepada semesta.
Sebab di balik tawa yang sederhana,
tersimpan air mata yang telah reda,
keberanian untuk tetap melangkah,
dan keyakinan bahwa setelah luka,
esok masih menyimpan bahagia.
Terong Tawah, 26 Agustus 2026