Karya: Steve Imanuel Sinulingga
Hng—
sesuatu di dada
menggedor rusuk,
mencari mulut
atau retak untuk pecah.
Heh.
Satu bunyi lolos.
Yang lain menyahut.
Ha.
Wajah-wajah terbuka;
panggilan yang membelah kami
tercabut dari lidah.
Ha-ha-ha!
Murka membuka kepalan.
Masygul menggigit tangis
hingga kembali ke tenggorok.
Gentar menabuh rahang
menjadi genderang.
Hahaha—
seratus mulut
meminjam satu bunyi.
Detik terus bekerja.
Tak seorang pun mendengar
waktu mengikir kami.
Lalu—
gelak patah.
Panggilan-panggilan itu
kembali menghuni
lidah masing-masing.
Pukul lima sore.
Di lantai yang sama,
tanya itu masih terdiam.
Satu per satu mulut menutup.
Dan yang tersisa—
bukan jawaban,
melainkan bunyi
yang kehilangan mulut
untuk menertawakannya.
Jambi, 24 Agustus 2026