Karya: Salsabila Putri
Larut
Ia tumbuh dari banyak harapan
yang perlahan berubah menjadi kecewa.
Pernah ia menunggu sebuah pelukan,
namun yang datang hanya sunyi.
Pernah ia mengejar sebuah bangga,
namun namanya tak kunjung dipanggil.
Maka ia belajar tersenyum
meski hatinya penuh tanda tanya.
Belajar berkata, “aku baik-baik saja,”
ketika sebenarnya ada hujan
yang diam-diam menggenang di matanya.
Hari-hari membuatnya semakin pandai
menyembunyikan luka di balik tawa.
Sampai suatu malam,
ia larut dalam tangisnya sendiri
bukan karena ia lemah,
melainkan karena terlalu lama
menjadi anak yang kuat sendirian.
Namun di antara air mata itu,
masih ada seberkas harapan
yang menolak padam.
Bekasi, 25 Agustus 2026