Karya: Riski Wahyu Pratama
Ada tangis yang tak jatuh lewat mata,
ia bersembunyi di balik senyum yang dipaksa.
Malam-malam kubiarkan sunyi merayap,
menghitung luka yang enggan menguap.
Kudengar detak jam berbisik pelan,
mengingatkan pada janji yang tertinggal di jalan.
Kadang aku ingin menjadi hujan saja,
agar tangisku tak perlu dipertanyakan dunia.
Namun ada kalanya tangis itu deras,
pecah bersama dada yang lama terperas.
Bukan karena lemah, bukan pula kalah,
hanya rindu yang tumbuh jadi luka basah.
Biarkan aku menangis tanpa dihakimi,
sebab air mata pun punya arti sendiri-
tanda bahwa hati masih mampu merasa,
meski dunia memaksa untuk selalu tegar dan bahagia.
Setelah reda, kuseka wajah perlahan,
kutata kembali serpihan yang berjatuhan.
Sebab tangis bukan akhir dari cerita,
melainkan jeda,
sebelum jiwa kembali berjuang-
tanpa luka.
Bandar Lampung, 22 Agustus 2026