Simfoni Ilusi dan Amarah Muda
Karya: Priska Sinta DewiKemarin air matamu luruh demi jelita yang lalu,
meratap perih seolah dunia runtuh membisu.
Namun, di balik topeng pesta yang riuh bertalu,
sekejap pandang melipat ingatan menjadi abu.
Empat fajar bertamu, kilatnya lekas memudar,
dua jiwa belia tersesat tanpa sempat tersadar.
Belum genap musim menempa jemari yang gemetar,
mereka sebut jerat ini sebagai cinta yang berkobar.
Seutas benang sutra mengikat erat kaki mungilmu,
agar kau tak terbang menjauh dari dekapanku.
Aku bisa menghabisimu karena gemas cintaku,
bukanlah kidung sayang, melainkan jeruji yang membelenggu.
Air mata yang tumpah bukanlah embun kesetiaan,
itu adalah tangis ngeri atas runtuhnya kewarasan.
Tragedi ini tegak sebagai tiang peringatan,
bukan altar suci yang patut kita rayakan.
Yogyakarta, 27 Agustus 2026