Lautan Darah dari Suara Hati yang Mengering
Karya: Katheleen PatijayaAda yang sedang berteriak di sana lagi.
Kali ini adalah sebuah kancil mungil.
Tergeletak dalam perangkap pemburu, ia terjebak tanpa jalan keluar.
Penuh kesakitan, ia perlu bantuan.
Kakinya yang rapuh gagal untuk bangkit,
Matanya yang penuh cahaya tidak berhenti meluapkan titisan air.
Hatiku hancur karena tangisan yang tidak henti.
Sungguh…
Sampai kapankah ia akan bersuara?
Dari jendelaku, pemandangan yang sama selalu terlihat.
Sudah banyak makhluk yang jatuh dalam perangkap itu.
Setiap ada yang dengan polos mendekati tempat itu, tirai jendelaku jatuh.
“Dia” akan datang untuk menghilangkan semua bunyi.
Perangkap itu akan kosong kembali.
Namun, mengapa aku masih mengintip?
Mata yang bergetar bertemu dengan sepasang yang beku.
Mereka, besar dan bulat, telah menjadi abu-abu.
Di sekitar tubuhnya yang kecil, merah pekat mekar seperti mawar.
Maka,
Mukaku basah dengan air mata.
Jakarta, 27 Agustus 2026