Karya: Najwa Nurul Hasani
Rumah ini menjelma rimba yang lengang,
namun dindingnya teguh memendam riuh.
Pada ambang pintu,
gelak seseorang tinggal sebagai gema
yang kehilangan peta untuk pulang.
Ia membelukar di sela kursi tua,
mengendap halus pada bibir cangkir,
lalu berdebu bersama pijar petang
yang luruh mengecup lantai.
Dahulu, kupikir tawa hanyalah
peta bagi bahagia untuk mengenali dirinya.
Kini, kala sunyi kian merenta,
aku paham: ada tawa yang dicipta
hanya untuk meredam apa yang luka,
lalu menjelma warisan yang paling sunyi.
Maka saat kelam merapat di jendela,
aku masih mengeja bisik itu—
lirih, jauh, nyaris membisu.
Barangkali yang dinamakan rindu
adalah tawa yang telah pupus suaranya,
namun abadi bergema di relung kalbu.
Bekasi, 25 Agustus 2026