Karya: NAJWA ALYA FAKHRANI
Aku pernah mengejar langit
dengan tangan yang bahkan gemetar.
Menanam harap di tanah yang tandus,
menyiraminya dengan doa, dan setiap malam
aku percaya barangkali esok,
namaku akan dipanggil oleh apa
yang selama ini kuperjuangkan.
Aku berlari.
Meski langkahku patah-patah.
Meski berkali-kali dunia berkata,
“Tidak mungkin.”
Aku tetap berjalan.
Sebab bukankah doa
adalah cara paling sunyi
untuk mengatakan kepada Tuhan
bahwa kita belum menyerah?
Namun waktu mengajarkanku sesuatu
yang tak pernah ingin kudengar:
Tidak semua yang kita kejar
ditakdirkan untuk tinggal.
Bukan karena aku tak ingin berjuang,
tetapi karena aku sudah berjuang
dan tetap harus belajar menerima
bahwa tidak semua yang kuinginkan
ditakdirkan menjadi milikku.
Barangkali,
selama ini aku terlalu sibuk
meminta Allah membukakan pintu
yang kuanggap terbaik,
sampai lupa bahwa
Allah melihat seluruh jalan
yang tak mampu kulihat.
Mungkin sesuatu yang kupikir
akan menyelamatkanku
justru sedang disiapkan
untuk menghancurkanku.
Ada yang kupikir akan menjadi bahagia,
ternyata jika kugenggam lebih lama,
ia justru akan menjadi luka.
Dan malam itu,
aku menangis.
Bukan karena Allah tak mendengar,
melainkan karena akhirnya aku sadar
selama ini aku terlalu sibuk
meminta apa yang kuinginkan,
sampai lupa bertanya:
“Ya Allah,
apakah ini benar-benar baik untukku?”
Barangkali tangan-Nya
yang selama ini kukira menjauh,
sebenarnya sedang melepaskan genggamanku
dari sesuatu yang akan menghancurkanku.
Maka kini,
jika tangisku masih jatuh,
biarlah ia jatuh sebagai tanda
bahwa aku pernah berjuang sepenuh hati.
Dan jika mimpiku belum menjadi nyata,
biarlah.
Sebab aku mulai mengerti:
Manusia hanya mampu
menyusun rencana dengan harapan,
sedangkan Allah
menyusun takdir dengan pengetahuan.
Dan suatu hari nanti,
ketika aku menoleh ke belakang,
mungkin aku akan tersenyum
melihat diriku yang dulu menangis
karena kehilangan sesuatu
yang ternyata
sedang Allah jauhkan
demi menyelamatkanku.
Sebab ternyata,
tidak semua yang hilang adalah kehilangan.
Ada yang pergi
agar kita menemukan.
Ada yang gagal
agar kita diarahkan
Dan ada doa-doa
yang tidak pernah Allah kabulkan
sebagaimana yang kita minta
bukan karena Dia tidak mendengar,
tetapi karena
""Dia Maha Mengetahui
apa yang tidak mampu kita ketahui.""
Jadi, jika hari ini aku menangis,
aku tidak lagi bertanya,
“Ya Allah, mengapa bukan aku?”
Aku hanya mengusap air mata
dan berbisik,
“Jika bukan ini yang Engkau tuliskan untukku,
tolong ajari hatiku
untuk tetap percaya
bahwa tulisan-Mu
selalu lebih indah
daripada keinginanku.”
Lalu aku berjalan lagi.
Bukan karena aku sudah tahu
ke mana takdir membawaku,
tetapi karena aku tahu
siapa yang menuliskannya.
Allah.
Dan mungkin,
di ujung jalan yang belum kukenal,
sedang menunggu kebahagiaan
yang dulu bahkan
tak pernah terpikirkan olehku.
semoga aku mengingat:
barangkali yang sedang kutangisi hari ini
adalah sesuatu
yang kelak akan kusyukuri
karena pernah Allah ambil dariku.
Dan jika aku harus memilih
antara mendapatkan apa yang kuinginkan
atau mendapatkan apa yang Allah kehendaki,
Yogyakarta,24 Agustus 2026