Karya: MUTIA RAHAYUNINGSIH
Dulu aku muak pada tangis
Mengira ia pengkhianat
Yang gemar membongkar rapuhku ke permukaan
Namun nyatanya,
Saat semua kata menemui buntu dan sekarat
Ia yang maju, menyuarakan kesunyian
Ia hadir kala malam terlalu panjang
Saat doa-doa menggantung di langit-langit dada
Tak bersuara, namun gemuruhnya paling lantang
Air mata membasuh nama yang melukai
Membilas kabut pada cermin jiwa
Agar esok aku bisa kembali berkaca
Tanpa ada dendam yang tersisa
Kini aku tak lagi buru-buru menyeka
Kubiarkan ia menuntaskan tugasnya
Karena aku percaya,
Setelah hujan reda
Tanah akan subur seperti semula
Riau, 22 Agustua 2026