Karya: Muhammad Ikhsan Pratama
siapa yang mula mula mengajarkan
bahwa air mata adalah pertanda kelemahan?
barangkali ia belum pernah menyaksikan
betapa manusia mampu menyembunyikan badai
di balik wajah yang tetap menata senyum
sembari berbisik, aku baik baik saja.
sebab tangis tak selalu tumbuh dari kalah,
kadang ia lahir dari kehilangan yang enggan pulang,
dari harapan yang gugur sebelum sempat menjadi nyata,
atau dari riuh yang terlalu lama bersarang di kepala.
ada duka yang kehilangan bentuk ketika hendak dilafalkan,
hingga air mata menjadi bahasa paling jujur
bagi sesuatu yang tak sanggup dijelmakan kata.
maka biarkan ia luruh,
seperti beban yang akhirnya menemukan tanah.
sebab menangis bukanlah perkara menyerah kepada kehidupan,
melainkan memberi hati kesempatan untuk mengurai sesaknya sendiri,
sebelum kembali menempuh hari dengan luka yang belum sepenuhnya kering.
barangkali begitulah manusia belajar menjadi kuat,
bukan dengan mengeringkan air mata,
melainkan dengan berani membiarkannya jatuh.
Labuhanbatu Selatan, 23 Agustus 2026