Karya: Dzaki Fajar Waliyudin
Aku hanyalah rintik hujan,
Yang luruh ketika memanasnya cakrawala,
Terlepas pasrah dari dekapan awan.
Kehadiranku dinanti oleh sebagian jiwa,
Namun tak jarang, aku dibenci dan dicerca,
Meski terkadang disenangi laksana merdu derai nada.
Tetesan sepertiku, apakah masih layak diselami?
Apakah wujudku pantas untuk dihargai?
Di balik rintikku yang paling rapuh dan lembut,
Aku memendam tangis yang tak pernah disebut.
Aku ingin selaik cakrawala yang menjulang tinggi,
Melepas dahaga validasi yang selama ini terus kucari.
Namun takdir menjadikanku sesuatu yang mudah dijatuhkan,
Menyentuh tanah, terinjak, dan seketika direndahkan.
Kupinta pada awan dan cakrawala yang agung,
Tahanlah aku dalam dekapmu yang murung.
Jangan lagi kau turunkan aku membasahi bumi,
Hingga mereka benar-benar sadar; aku berharga dan dinanti.
Malang, 23 Agustus 2026