Dibaca: Memuat...
Retak yang Mengingat Air
Karya: Latifa khiraniAkar tak pernah menyangka
tanah menyimpan lebih dari satu luka.
Ia hanya merambat,
membiarkan sunyi menuntunnya
ke arah yang belum dikenalnya.
Namun hutan lebih dahulu mempercayai gema;
bukan memanggil burung,
melainkan menjatuhkan daun
pada batang yang belum selesai menghijau.
Maka akar menyusuri retak,
sebab di sanalah
air diam-diam menemukan jalannya.
Angin terus membawa nama
yang bukan miliknya.
Orang-orang meninggalkan kapak
di dekat akarnya,
lalu menyebut luka itu
berasal dari tangannya sendiri.
Ia mengembalikannya ke telapak tanah,
hingga hujan menghapus bekas genggamnya.
Akar terus merambat.
Dari retak yang dulu melukainya,
serabut-serabut baru menemukan air.
Hutan tetap menghafal gema.
Sementara akar menghafal tanah;
sebab retak-retak itulah
yang diam-diam memberi ruang untuk tumbuh.
Kerinci, 27 Juli 2026