Tawa Menyulam Riang
Karya: Kharisma NoviantiTawa pernah menjadi rumah,
sebelum waktu merobohkan pintunya.
Ia tinggal sebagai gema
di rongga dada—
pulang, tetapi tak pernah tiba.
Lalu suatu pagi,
ia tumbuh kembali
dari denyut keseharian:
percakapan yang kehilangan ujung,
nama dipanggil selembut keakraban,
dan hari tiba-tiba terasa layak dirayakan.
Barangkali bahagia memang demikian—
bukan petir yang membelah langit,
melainkan embun
yang diam-diam menetap di ujung daun.
Tawa pun menemukan alamatnya:
bukan untuk menyangkal
musim yang pernah keruh,
melainkan membuktikan
hidup masih menyisakan
nadi bagi riang.
Maka biarkan ia bergaung.
Sebab tidak semua yang pecah
ditakdirkan menjadi puing;
ada yang menjelma riak,
lalu menjalar
ke seluruh permukaan dunia.
Jakarta, 28 Agustus 2026