Hati Yang Terluka Tanpa Suara
Karya: Kety PurianiDi sudut kamar, aku menatap jendela,
ditemani cahaya bulan yang pucat dan sepi.
Ada tangis yang jatuh tanpa banyak suara,
seolah memahami apa yang tak mampu kuucapkan sendiri.
Malam menjadi saksi ketika aku menangis,
mengingat hal-hal yang ingin kulupakan.
Namun perlahan, aku mulai belajar ikhlas,
menerima bahwa tak semua harus dipertahankan.
Ada nama yang masih tinggal dalam ingatan,
ada kenangan yang belum selesai.
kan kucoba menerima setiap kehilangan,
meski terkadang air mata kembali mengurai
Kini aku tidak lagi takut menangis,
sebab luka juga perlu diberi ruang.
Biarlah air mata jatuh sampai habis,
agar hati punya alasan untuk kembali tenang
Palangkaraya,29 Agustus 2026