Tumbuh Dari Luka
Karya: Husna DianaAku adalah tawa yang paling nyaring di antara dinding rumah,
anak bungsu yang dianggap tak pernah kehabisan bahagia.
Mereka mengenal senyumku, tetapi tak pernah mendengar
retak yang diam-diam tumbuh di baliknya.
Aku belajar menyeka air mata sebelum sempat dipeluk,
menjahit kecewa dengan doa yang tak bersuara.
Sering kali, aku memilih menjadi penenang
ketika hatiku sendiri kehilangan tempat untuk pulang.
Luka memang tak pernah meminta izin untuk singgah,
tetapi ia mengajariku cara berdiri tanpa menggenggam siapa pun.
Dari setiap kecewa, tumbuh keberanian.
Dari setiap sepi, lahir keteguhan.
Jika hari ini aku masih mampu tersenyum,
bukan karena hidup selalu ramah,
melainkan karena aku telah berdamai dengan luka
yang diam-diam menumbuhkan diriku menjadi cahaya.
Gayo Lues, 30 Juli 2026