Akar yang Tertawa
Karya: Gusti Ayu Mirah MahardaniAku percaya tawa bukan milik angkasa.
Ia lahir dari bawah,
dari jari-jari buta yang meraba tanah,
dari benih yang lama terkubur
sebelum memutuskan untuk tumbuh.
Kau lihat daun itu?
Ia tidak pernah tertawa karena bahagia.
Ia tertawa karena kenal hujan,
karena kenal badai,
karena tahu bagaimana rasanya
patah lalu bangkit lagi.
Bunyi akar merambat di dalam gelap
adalah tawa yang tak pernah kau dengar,
namun ia ada.
Ia mengalir seperti nadi yang enggan berhenti.
Tawa adalah akar.
Ia menjalar diam-diam di bawah luka,
menemukan celah di antara batu-batu sunyi,
lalu mekar menjadi sesuatu
yang tak bisa kau cabut
meski kau potong dahan dan daunnya.
Ia tetap tumbuh.
Ia tetap menjalar.
Ia tetap hidup walau kau kubur.
Jadi, jika suatu hari kau dengar aku tertawa,
jangan kau kira aku lupa pada pedih.
Aku hanya sedang mengingatkan akar-akarku
bahwa hidup adalah gerakan ke atas
setelah sekian lama diam di bawah.
Karena tawa adalah akar yang tak pernah mati.
Ia hanya menunggu hujan
untuk menyembul lagi.
Denpasar, 29 Agustus 2026