Dibaca: Memuat...
Teras RumahKarya: Ghina Syahratuljannah
Di teras itu,
Tawa memecah sunyi malam.
Ayah menuturkan masa mudanya,
Aku menyelipkan celoteh di sela cerita,
Dan malam diam-diam merekam suara kami.
Dulu, kupikir tawa
Akan menetap selama rumah masih berdiri.
Namun waktu perlahan mengajarkan,
Bahwa kebersamaan pun mengenal jarak.
Satu demi satu suara menjauh,
Meninggalkan teras dengan kursi-kursi
Yang lebih sering di temani angin.
Kini, ketika mengingat rumah,
Yang paling sering kembali kepadaku
Bukan sunyinya,
Melainkan riuh yang pernah kami bagi.
Ibu, pernah berkata,
Ayah masih mencari suara anak-anaknya.
Maka kelak, ketika kami pulang,
Biarlah teras itu kembali riuh,
Sebab ada tawa,
Yang tak pernah benar-benar pergi.
Kendari, 26 Agustus 2026