Malam ditemani air mata
Karya: Firsta septiasya Yudhistira ningsihMalam kembali tiba membawa sunyi
Yang bahkan tak sanggup kuberi nama
Di antara sela dan desirnya angin malam,
Aku menatap malam ditemani air mata
Tak ada yang tahu berapa lelahnya hati Dan ragaku berpura-pura baik-baik saja
Di depan mereka
Senyum yang kupakai sepanjang hari tak
Lebih dari sekadar topeng untuk menutupi luka
Aku memanggil namamu dalam diam
Namun yang menjawab hanya angin malam
Bayang-bayang masalalu datang tanpa mengetuk, mengisi ruang kosong yang
Dulu kau tinggalkan
Air mata ini bukan sekadar tangis
Ia adalah rasa yang tak mampu terucap,
Yang terlalu lama menahan sakit
Jika esok aku kembali tersenyum
Jangan kau kira semuanya telah sembuh
Mungkin aku hanya belajar menyembunyikan luka dengan lebih indah
Malam menjadi saksi, air mata menjadi
Teman, dan hari belajar Iklas meski
Kenangan masih enggan pergi selamanya
Palangkaraya, 29 Agustus 2026