Ketika Mimpi Menjelma Abu
Karya: Eka Dhini PratiwiPernah kutitipkan semesta
pada sepasang mata yang penuh musim.
Kukira langit akan selalu setia
menganyam fajar di ujung harapku.
Nyatanya, waktu lebih mahir
menulis kehilangan daripada perjumpaan.
Takdir datang tanpa mengetuk.
Ia merobek cakrawala
dengan jemari yang dingin,
menggugurkan matahari
sebelum sempat menghangatkan pagi.
Di sanalah mimpiku rebah—
tanpa nisan, tanpa elegi.
Aku menyusuri reruntuhan itu
seperti peziarah yang kehilangan arah.
Kupungut serpih-serpih asa
yang berserakan di tubuh waktu,
namun setiap genggam
hanya menyisakan debu
yang perlahan menjelma abu.
Barangkali,
setiap mimpi memang ditakdirkan
untuk mengenal api.
Sebab tak ada langit
yang benar-benar biru selamanya,
dan tak ada harapan
yang luput dari luka.
Maka kubiarkan abu itu
hinggap di telapak tanganku.
Bukan sebagai akhir,
melainkan saksi
bahwa aku pernah percaya
pada kemungkinan-kemungkinan
yang kini tinggal kenangan.
Kelak,
jika angin membawa abu ini
ke tanah yang lebih subur,
barangkali akan tumbuh
sebatang keberanian
yang akarnya menjalar
melewati kecewa.
Sebab mimpi boleh menjelma abu,
tetapi manusia
tak pernah diciptakan
untuk tinggal selamanya
di dalam reruntuhan.
Ia akan bangkit,
membentuk langit baru
dari sisa-sisa yang pernah menghanguskannya.
Sumatera Utara, 30 Juli 2026