Tangis ku
Karya: Devia Agustin Permata SariDi sudut malam yang sunyi dan dingin, rintik hujan jatuh menyapu rahasia, menghapus jejak luka yang terpahat di jiwa, saat sepi mulai merayap pelan di dada.
Air mata ini menetes tanpa suara, menelusuri pipi yang menyimpan duka, bukan karena lemah atau menyerah pada takdir, melainkan karena beban yang tak lagi tertampung.
Ada rasa sakit yang tak sanggup terucap | memendam rindu, penyesalan, dan kenangan kelam | setiap tetes nya menyuarakan jeritan yang tersembunyi, kisah-kisah patah yang tak pernah sempat usai.
Namun dalam setiap derives tangis yang basah, ada ketenangan yang perlahan-lahan datang melukis senyum, membawa kedamaian setelah badai melintas jiwa, menyucikan hati agar siap kembali melangkah.
Surabaya, 29 Agustus 2026